Dia Itu Guruku
Dalam dinginnya pagi yang
menciptakan butir-butir embun kuberjalan menyusuri terjalnya kehidupan,
ditemani desiran angin yang menyejukkan badan, kulewati demi kewajibanku
sebagai seorang siswa, begitu pula dia yang selalu hadir paling awal,
kendaraannya selalu terparkir paling depan diantara kendaraan lain, dan
biasanya kendaraan yang terparkir paling depan itulah yang datang ke sekolah
paling awal, lebih awal dari murid-muridnya, bahkan lebih awal dariku yang
rumahnya tak jauh dari sekolah. Salah satu yang menjadi inspirasiku adalah
semangatnya, meski di dera sakit sekalipun ia tak pernah patah arang, ia tetap
mengajar…. Mengajar tanpa letih dan ia lakukan bukan karena profesinya sebagai
guru, tapi semata-mata karena Alloh. Memberikan yang terbaik adalah harapannya,
pantas kata kagum selalu terlontar untukknya. Tak pernah terlintas dibenakku
sebelumnya sosok insan yang berjasa dalam hidupku, sosok insan yang telah
menggerakkan kakiku tuk melangkah sejauh ini, yang telah menyadarkanku bahwa
aku dapat terbang menggapai harapanku. Ribuan ilmu dia curahkan padaku berbagai
pengalamannya ia ceritakan padaku hingga aku kenal betul dengan guru itu.
Sebenarnya siapa dia?? Dan dari mana asalnya. Kenapa dulu saat pertama masuk
Sekolah ini aku tidak melihatnya, bahkan tidak tahu siapa namanya tiba-tiba
saja dia menjadi wali kelasku dan menjadi sosok yang paling kukagumi di
sekolah.Padahal kalau dipikir, ada banyak pengajar yang aku kagumi tapi kenapa
yang menjadi sorotanku hanya dia, ibarat lirik lagu “Sungguh Aneh Tapi
Nyata.”
|
Karakternya yang susah ditebak
selalu membuatku penasaran, untuk mengulik lebih dalam lagi karakternya.
Sungguh karakternya unik, khas dan luar biasa. Baru kali ini aku bertemu
dengan pengajar seperti itu, aku merasa beruntung pernah diajarinya,
mendapatkan ilmu-ilmunya dan pengalaman hidup darinya. Tapi sungguh disayangkan
aku tak mampu membalasnya bahkan dia berkata padaku sampai saat ini belum
bisa memberikan yang terbaik. Padahal apapun yang dia berikan padaku
dan juga teman-teman itulah yang terbaik dan itu bukan hal yang sepele. Tapi
aku selalu membuatnya kecewa dan kecewa, aku tak pernah memberikan hasil yang
maksimal atas apa yang ia ajarkan padaku entah mengapa itu bisa terjadi.
Sehingga dia selalu mengatakan merasa belum bisa memberikan yang
terbaik.Setiap kali ulangan mata pelajarannya aku selalu mendapat nilai
kecil. Aku malu padanya, padahal sewaktu di SMP pelajaran itu yang paling aku
sukai dan tak pernah mendapatkan nilai kecil. Sampai suatu hari dia
pernah memberikanku sebuah nasihat.
“ Put ibu mau bicara?” Tanya guru
“ Iya Ibu mau bicara apa.” Jawabku
“ Nanti saja.” Jawabnya serius
“ Apa ada yang salah denganku Bu?”
Tanya serius
“ Nggak, gak ada yang salah, nanti
aja.”
“ Baik kalau begitu.” Jawabku
“Sepanjang koridor kelas aku
berpikir apa yang telah aku lakukan, apa aku melakukan kesalahan, tapi kata
Ibu gak ada yang salah, atau jangan-jangan aku mendapat kopi pahit lagi, tapi
Ibu pura-pura bersikap tidak ada apa-apa. Sepertinya serius, penasaran
apa yang mau dibicarakannya” (Pikirku). Besoknya saat guru itu mengajar di
kelas, aku Tanya kembali.
“ Oh iya, kemarin Ibu mau bicara
apa?” Tanyaku
“ Oh iya Put, soal cerpen
yang kemarin, lain kali kalau terinspirasi dengan cerita orang lain
hati-hati, takutnya nanti disebut plagiat yah, Ibu tahu Putri suka menulis
Ibu dukung Put.” Tukas Ibu.
“Emm iya Bu makasih udah ngasih
tahu. Iya lain kali aku akan lebih berhati-hati.” Menghela nafas.
|


Komentar
Posting Komentar