Sinopsis Sepotong Harapan
Satu kata akan sangat bermakna bagi seseorang, jika orang tersebut mengucapkannya dengan penuh ketulusan. Selaik embun yang memberikan kesejukan di tengah teriknya gurun bahkan lebih berharga daripada pemberian atau pun hadiah yang bagus.
berawal dari ketulusan berubah menjadi mimpi
Aku satu-satunya murid yang nilainya dibawah rata-rata untuk mata pelajaran yang di ampunya.
Aku merasa sedih dan malu, tapi hari itu aku merasa bahagia berkat ketulusan seseorang padaku aku menjadi lebih baik.
Melupakan kenangan adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Tak bisa disangkal kerinduan akan hal itu pun sering kali menjelma seperti serigala dengan seringai berkilat dan kuku tajam yang tak mudah meninggalkan jejak.
Hari itu mendung begitu saja, langit Abu kehitaman. Matahari seolah menuntaskan tugasnya lebih awal. Gerimis turun perlahan disertai angin dari utara yang meniupkan hawa sejuk. Sayangnya perasaannya saat itu tak sesejuk udara. Ada yang berkecamuk di hati sedemikian hebat! Entah apa itu? ia tidak mengerti! Entah itu rindu, nafsu atau sesuatu yang bersifat abstrak, ya yang tak lain adalah cinta. Namun ia hanya bisa merabannya dalam barisan kata dan juga aksara yang dikirim via gerimis dan dalam sewujud surat tanpa nama.
Aku masih muda, masih punya harapan yang panjang! Yang harus aku lakukan adalah berusaha dan berdoa, semoga Allah sampaikan umurku untuk menggapai semua itu!
Izinkan Aku memilikimu dengan caraku...
Sebenarnya kita ada pada circle yang sama, hanya masih ada hijab diantara kita. Aku setia dalam doa, dalam rindu yang memahkotakan senyuman meski ribuan mata tak melihatnya hatiku tetap untuk mu.



Komentar
Posting Komentar