2BK= Bangun Kehidupan, Bangun Karakter


Sebuah keputusan terhadap sebuah pilihan akan memutuskan keputusaasaan -Anonim-
Sejarah, baru saja di mulai berangkat dari sebuah proses meraih ilmu dan kebermaknaannya juga serangkaian pengalaman lapangan yang menyadarkan.     
Secara filosofis dan historis pendidikan menggambarkan suatu proses yang melibatkan berbagai faktor dalam upaya mencapai kehidupan yang bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat. (Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan., 2016). Keputusan untuk menjadi pendidik merupakan pengabdian terindah sepanjang hidup, itulah sepenggal kalimat yang ada dalam benak saat masuk ke dalam lingkungan sekolah dengan seragam yang berbeda. Selain karena saat ini saya berada pada lingkup pendidikan yang dipayungi oleh ilmu pendidikan dan keguruan yang tentunya akan menjadi seorang calon pendidik. Hal yang tak pernah terpikirkan tentang profesi Guru BK atau Konselor, bahwa saat ini dan masa yang akan datang  akan menggeluti profesi yang  satu ini,  saya berpikir bahwa saya tidak akan pernah mejadi seorang guru. Selain karena saya punya keyakinan tersendiri mengenai persepsi Guru BK/Konselor dengan segala keahliannya yang  mungkin akan sangat sulit untuk dicapai.
Namun dengan seiring waktu dan segala proses di dalamnya perlahan  mulai  menikmati belajar menjadi seorang pendidik terlebih belajar menjadi seorang calon guru BK/Konselor. Sudah menjadi konsekuensi logis ketika memilih jurusan berdasarkan hati nurani dan keputusan karir yang tepat maka harus siap dengan tantangan juga orientasi dari karir profesi yang akan digeluti ke depannya. Terkecuali bagi yang masih 50:50 atau bahkan tidak berminat sekali menjadi pendidik dan tenaga kependidikan.
Menjadi warga sekolah tentunya tidak hanya menjalani tugas utama sebagai seorang pendidik, ketenagapendidikan atau peserta didik tetapi menjadi warga sekolah berarti menjadi bagian dari lingkungan sekolah yang turut berkontribusi untuk mencapai tujuan pendidikan. Sejak awal dapat diprediksi ketidaksesuaian antara kondisi objektif di lapangan dengan teori yang dipelajari menjadi tangtangan yang menarik, tetapi dengan berangkat dari sebuah teori yang relevan yang setidaknya dipahami menjadi modal dasar tersendiri ketika berada di lingkungan sekolah. Di antaranya belajar memosisikan diri sebagai pendidik meskipun dari segi keilmuan belum lah pantas dan kapasitas saya masih sebagai Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Saya bahagia bisa belajar dan tentunya menjadi “peak experience” yang sangat berharga memiliki kesempatan mengamati secara langsung proses pelayanan pendidikan dan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah sehingga menjadi fondasi untuk membangun jati diri sebagai calon pendidik/konselor.                           
Syamsu Yusuf (2009) mengemukakan  bahwa pendidikan yang efektif atau ideal adalah pendidikan yang mengintegrasikan tiga bidang utamanya secara sinergi  yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, intruksional dan kurikuler dan bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksankan dua bidang utamnya yaitu bidang administratif dan intruksional dengan mengabaikan bidang bimbingannya maka dapat dipastikan siswa akan kurang memiliki kemtangan dalam aspek kepribadian.
Kondisi ini sangat kontradiktif dengan yang ditemukan di lapangan pada umumnya, ada yang melaksanakan dan juga ada yang tidak melaksanakan dari salah satu bidang utamanya dan mungkin saja itu bidang bimbingan dan bahkan tidak memberikan jam untuk bimbingan dan konseling dalam kurikulumnya sehingga menjadi pertanyaan, bagaiamana sekolah yang siswanya tidak sedikit dapat mencapai pendidikan yang ideal? Ini yang perlu menjadi pembiasaan untuk seorang new be (pemula) ketika terjun di lapangan, lalu ada pertanyaan lagi jika bidang bimbingan tidak dilaksanakan bagaiamana siswa memiliki kematangan dalam aspek kepribadian atau dimensi psikososiospiritualnya? seperti itulah kenyataan di lapangan.
Siswa adalah seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian, untuk mencapai kematangan tersebut, siswa memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan baik tentang dirinya maupun lingkungannya. (Syamsu Yusuf., 2017). Namun disisi lain proses perkembangan siswa tidak selalu berlangsung secara mulus atau steril dari masalah, dengan kata lain proses perkembangan itu tidak selalu berjalan lurus atau searah dengan harapan dan nilai yang ada di sekolah.
Terlepas dari pernyataan itu, frame terkait BK masih tertinggal, sehingga masih banyak sekolah yang menganggap bahwa layanan BK di sekolah tidak begitu penting dan perannya hanya mengurusi siswa yang bermasalah atau memberikan informasi terkait sekolah lanjutan sehingga muncullah istilah polisi sekolah atau lebih parahnyanya gudang sampah sekolah. Sehingga nama BK (Bimbingan dan Konseling) dan fungsi ruang BK menjadi tidak familiar di kalangan  siswa. Banyak siswa yang merasa takut ketika masuk ke ruang BK sekali pun dipanggil persepsi mereka adalah bermasalah, padahal fungsi dari ruang BK adalah memberikan jalan kepada semua siswa agar mereka bisa lebih baik bukan bermakna bermasalah atau disembuhkan. Memberikan pemahaman kepada mereka terkait BK memerlukan kecermatan dalam bahasa ada bahasa-bahasa baru yang tak mudah ditafsirkan oleh mereka, karena mereka baru, maka ini juga pembelajaran yang berharga bagi kita sebagai Guru BK/Konselor bahwa Guru zaman sekarang perlu memosisikan diri sebagai “teman” dengan siswa zaman sekarang agar bisa mendapatkan kepercayaan dari mereka.
Ragamnya kepribadian siswa di sekolah membuat saya tersadar bahwa proses pendidikan tidak bisa semata dihitung detik, menit, jam dan hari. Perhitungan itu ada di ikhtiar doa dan kehendakNya, karena pada hakikatnya setiap siswa mempunyai nurani yang dapat disentuh, namun menyentuhnya itulah yang menjadi perkara yang sangat sulit, sebab pemahaman yang mendalam serta menghindari proses labelling menjadi proses yang amat rumit.  
Karena menjadi guru adalah tentang perbaikan, perbaikan dan perbaikan sebagaimana siswa yang butuh perubahan, perubahan dan peubahan. Guru dan siswa saling memperbaiki dan mengubah, yang pada akhirnya bekerjasama untuk menggapai ridhaNya dalam perjuangan menuju surgaNya. Tidak bisa menginginkan perubahan yang instan.  
Kekurangoptimalan pelayanan BK di sekolah membuat proses pendidikan kehilangan satu roda, aspek penunjang dalam mencapai perkembangan peserta didik yang optimal tidak dapat berjalan dengan seimbang. Program Bimbingan dan Konseling yang tidak utuh dan tidak adanya pemetaan kebutuhan (Needs Assesment)  menjadi faktor utama, akibatnya perkembangan peserta didik menjadi terhambat sulit untuk ditafsirkan apa yang mereka butuhkan.  
Pembenahan frame terkait dunia pendidikan dan Bimbingan dan Konseling perlu dilakukan sebagai langkah awal dalam mencapi tujuan pendidikan. Sebagaimana Lengveld mengatakan bahwa proses pendidikan adalah proses membawa manusia dari kondisi apa adanya ke kondisi semestinya. Maka perlu meluruskan niat sebagai seorang pendidik, perlu memahami visi mengenai apa itu belajar, siapa yang dibelajarkan dan untuk apa belajar, karena objek yang dihadapi bukan lah mesin yang bisa menghasilkan produk, tetapi mereka adalah sumber daya yang harus di optimalkan sesuai fitrahnya.
Banyak hal yang bisa dilakukan oleh kita sebagai pendidik abad milenial  salah satunya adalah dengan mengasah kompetensi dan tentunya yang harus dimiliki oleh guru BK/Konselor adalah mengelola program Bimbingan dan Konseling sebagaimana dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor pada butir D mengenai Kompetensi Professional dan merancang pengembangan program Bimbingan dan Konseling dengan mengacu pada Permendikbud No. 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Meluruskan niat meskipun niat adalah garda terdepan dalam aktivitas apa pun juga dan selebihnya adalah totalitas kita dalam mempersiapkan diri mulai dari mental, skill, pengelolaan dan konten yang akan disampaikan. Serta kompetensi yang harus selalu di asah dan di update sesuai dengan perkembangan zaman. Sebuah kutipan yang memotivasi saya dalam mengembangkan diri “Setiap rentang kehidupan dipenuhi dengan proses pembelajaran kehidupan sepanjng hayat. Manusia belajar dari tidak paham menjadi paham, dari tidak bisa membaca menjadi bisa membaca, dari tidak berdaya menjadi berdaya, dan dari hampa menjadi penuh makna. Maka belajar membuat hidup menjadi lebih bermakna”

Senarai Asa Integritas Jiwa Gelorakan Pendidikan Indonesia
Tasikmalaya, 18 September 2018 
dp-





























Komentar

Postingan Populer