Helping People is Self Helping
Melompat ke beberapa tahun
saat masih mengenyam pendidikan dasar dan menengah, tak sedikit pun terbesit
dalam pikiran dan batin akan menjadi seperti saat ini. Zona kehidupan yang sama
sekali tidak ada dalam ‘Mind Map’. Seperti sedang mengalami disosiasi (melakukan
pemisahan diri dari realitas).
Akan tetapi melalui proses
yang panjang dan segala lika-likunya, kehidupan ini mampu membuat diri ini menyadari
di titik kesadaran terdalam bahwa diri ini tidak ada apa-apanya, hanya ada Kuasa-Nya
yang memampukan, yang mengajarkan keikhlasan tentang penerimaan dan memberikan
kehidupan yang jauh lebih baik yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Satu
waktu merenungkannya cukup lama, ternyata…
That life is choice, sebuah
keputusan yang dapat memutuskan keputusasaan adalah ‘sebuah pilihan’. Hidup itu
untaian cerita (life script) yang perlu diisi dengan kebermaknaan di mana dan
kapan pun. Sebab hidup bukanlah sekadar sesuatu sebagaimana yang dipikirkan
tetapi sebagaimana yang dihayati secara total. Hidup hanya sebuah jembatan yang
dibangun oleh-Nya dan diciptakan untuk diisi dan diwarnai seindah mungkin, tentunya
islam sudah memberikan petunjuk kehidupan yang sangat rapi (detail) dan
sistematis, tinggal dijalani sesuai syariat yang bahkan manusia diberikan
anugerah sempurnanya akal untuk berpikir dan mencerna. Kendati terkadang masih selalu
terjebak dalam teka-teki kehidupan dan sibuk memikirkan jawaban.
Alur kehidupan tak pernah
berganti meski zaman telah merubah hari dan usang tergantikan pesatnya arus
teknologi. Terus bergulir, tak berhenti sejenak waktu pun saat menggilas
kehidupan yang tengah berjalan. Hari ini, esok atau pun nanti diriku tetaplah
seperti ini karena yang berubah adalah waktu. Perubahan akan dan terus terjadi
seiring masih bernapas. Kita hanya perlu melihat sebuah kehidupan
bertransformasi ke arah yang hakikatnya harus dituju oleh manusia atau
sebaliknya. Seperti itulah episodik kehidupan, dihayati dengan penuh kesadaran
(mindfulness), menerimanya tanpa syarat dengan tidak melakukan penilaian apapun
dan membuka diri terhadap banyak jalan yang tersedia dalam kehidupan.
Semakin dalam orang
menghayati kehidupan (dirinya) maka semakin bermakna pula kehidupannya. Sebab
penghayatan eksistensial adalah kedekatan dengan “Rabb” semakin orang ingin mencapai kesempurnaan hidup
semakin dia membutuhkan “Rabb” nya, karena orang yang tidak berjuang untuk
kebermaknaan hidupnya pada ujungnya mengalami ‘vacum eksistensial’
(Meaninglesness) tapi sebaliknya bagi orang yang memiliki alasan untuk hidup
atau makna hidup yang terus diperjuangkan akan mengalami transendensi diri (self transcendence) dan memiliki sejumlah pengalam emosi yang
positif tentunya.
Terbayang saat masih duduk seperti mereka
menatap sosok orang yang memiliki otoritas dalam kehidupan, sosok yang paling
memiliki pengaruh besar. Apapun yang terucap dari lisannya selalu didengarkan
dan dipatuhi. Bayangan itu lompat kembali ke pengalaman saat ini, di mana aku
melakukan hal yang tak pernah terbayangkan untuk menjadi seseorang dihadapan
mereka, karena bagiku, Aku masih tetap seperti mereka menjadi penikmat bangku
sekolah, melihat sosok guru yang berbicara dan duduk manis menikmati setiap
jamuan ilmunya. Aku bukanlah sosok itu dan sampai kapan pun aku tidak bisa
menjadi seperti itu, apa yang aku miliki
adalah milik semua dan apa yang aku bisa adalah kewajibanku untuk membantu.
Maka tak ada label dalam diriku karena aku tetaplah murid.
Masuk
ke dalam dunia mereka seolah aku melihat diriku saat masih seperti mereka,
membayangkan kehidupan yang begitu memesona. Ketika melihat sesuatu yang unik
maka aku ingin seperti itu, melihat sesuatu yang unik lainnya ingin pula
seperti itu. Begitulah proses mencari jati diri, perlu merasakan dan melakukan
sesuatu yang baru yang akan menggiring ke dalam membentuk jati diri. Setiap
orang pasti melewati fase tersebut dan itu normal, apa yang membentuk konsep
diri seseorang tidak terlepas dari lingkungannya sebab sifatnya reciprocal determinism. Seiring tugas
perkembangan yang terus berlanjut dan perlu dicapai oleh tiap individu dalam
setiap tahapannya. Ada pengetahuan pula yang terus bertambah dan pengalaman
yang diterima dari lingkungannya yang bisa membentuk ke dalam konsep diri yang
postif, tapi tidak sedikit pula pengalaman yang diterima dari lingkungannya
membentuk konsep diri yang negatif dan itu tergantung berhasil atau tuntas
tidaknya dalam mencapai tugas perkembangan atau yang menjadi kebutuhan dasarnya
tidak terpenuhi/didapatkan dari lingkungannya termasuk lingkungan inti seperti
keluarga.
Seperti yang dikatakan oleh Abraham Maslow
seorang psikolog aliran humanistic yang terkenal dengan hierarki kebutuhan (hierarchy of needs) nya, mengatakan bahwa
jika kebutuhan dasar seseorang terpenuhi akan memiliki dampak terhadap motivasi
dan akan menjadi pendorong dirinya dalam mendedikasikan diri pada tugas yang
harus dipenuhi setiap tingkatan (perkembangan) dalam mencapai
Self-Actualization. Itulah yang mengahantarkan orang pada titik kesadaran akan
eksistensi diri dan keinginan untuk mengaktualisasikan sesuatu yang berharga
dalam hidupnya. Hal ini sering pula digunakan untuk memahami diri sendiri,
mengapa aku seperti ini, seperti itu, dan kenapa tidak seperti ini, seperti
itu. Pada dasarnya adalah kebutuhan fisiologis, biologis, psikologis termasuk
spiritual yang terpenuhi. Bukan sekadar teori tetapi inilah modal terapi untuk
masuk dan memahami diri kita secara utuh. Semua intinya berasal dari dalam
diri, bagaimana kita memahami dan memperlakukan diri kita secara penuh empati,
terkadang sedikit toleransi ke diri kita sehingga berujung sikap ideal-perfect terhadap orang lain, yang
perlu sering kita lakukan adalah perjalanan ke dalam diri. Kita banyak
melakukan eksplore ke luar diri, tetapi jarang sekali mengeksplore ke dalam
diri.
Begitu pula term pertama yang perlu diingat sebagai
helper tentunya bukan memahami orang lain tetapi masuk ke dalam diri dan
kemudian pahami, karena ketika memahami diri sendiri disaat itulah kita mampu
memahami orang lain. Banyak permasalahan yang terlihat semu di dalam diri
mereka, yang bahkan diri mereka tidak tahu apakah itu sebuah masalah atau
bahkan yang secara kentara permasalahan itu ada pada mereka dan tidak tahu bagaimana
cara menyikapinya, terkadang ada dua sikap dalam melihat mereka, pertama
memahami permasalahan mereka atau kedua pura-pura tidak memahami apa yang
mereka hadapi dan ingin apa yang menjadi tugas dari mereka tuntas, tidak peduli
apapun alasanya. Mengapa orang tidak ingin tahu alasan dibalik ketika orang
tidak bisa mencapai tugasnya dengan baik? Karena ke-kakuan orang ingin sebuah
hasil lebih baik, tidak membutuhkan sebuah alasan. Maka sedikit dari kita yang
memiliki empati, padahal alasan itu mungkin sebuah masalah yang tersembunyi
bila kita memahami secara utuh.
Seorang helper perlu
merefleksikan perasaan dan melakukan penyadaran secara empati bahwasanya apa yang
terjadi pada dirinya (kehidupannya) adalah pengalaman yang harus dihadapi
dengan penuh kesadaran tanpa melakukan penyangkalan (denial) dan resistensi
(menolak). Sebagai contoh reflection to
feeling “Saya tahu kamu merasa sedih
dan saat ini kamu berada pada zona yang sangat sulit, satu sisi kamu ingin
menjadi siswa yang punya prestasi namun di sisi lain tidak ada yang mendorong
kamu untuk memiliki semangat belajar dan akhirnya kamu malas dan bolos sekolah,
seperti itu?”. Nah ini adalah contoh pernyataan bagaimana seorang helper
bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mereka sekaligus mengidentifikasi emosi
yang dirasakan oleh mereka. Dengan kata lain mereka memiliki kesadaran diri
akan masalah yang terjadi pada dirinya dan akan menyebabkan dia semakin
menerima resistensi yang terjadi dalam hidupnya karena merupakan bagian dari kehidupan
yang perlu dia terima sebagai bagian dari proses menjadi manusia seutuhnya
(fully functioning person).
Helper layaknya seorang
sutradara hanya berperan mengarahkan dan mendorong seorang aktor untuk tampil
hebat, agar bisa memerankan dirinya dalam berbagai lingkungannya (menjadi
manusia yang paripurna). bukan seorang dalang dengan wayang, yang bisa
diarahkan/dimainkan sekehendaknya (menjadi manusia yang pintar).
Tujuannya hanya membuat mereka
mencapai satu kata yaitu nyaman sehingga mereka menyadari secara penuh
keberadaan (eksistensi) mereka, mengapa mereka perlu belajar dan untuk apa
mereka belajar, dengan begitu mereka dapat menuntaskan setiap tugas
kehidupannya.
Mendorong dan meyakinkan
mereka, bahwasanya mereka memliki kualitas hidup yang lebih baik dan bantu
mereka mencapai goals hidupnya. Karena sejatinya proses pendidikan adalah
membawa seseorang dari kondisi apa adanya menuju kondisi semestinya (optimum)
dan hasilnya terrekapitulasi dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada
dirinya dan lingkungan.
Diperlukan sebuah ketekunan
untuk melihat satu masalah dari banyak sisi atau mengingat kembali hal-hal yang
sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tegerak kuat untuk
bertindak dengan semangat dan penuh ikhlas. Referensinya hanya mengambil dari pengalaman
diri saat ia dididik, saat belajar cara belajar dan berubah, dan gaya kelekatan
yang dimiliki atau bonding relationship
yang sehat.
To be continued…
Daily: Hal yang membuatku tetap semangat karena aku
menemukan diriku.
Ada dua tipe ketika orang
melihat masa lalu, pertama dia sedih dan bahkan menangis saat kembali melihat
masa lalunya. Kedua dia tertawa, senang dan bahagia saat melihat kembali masa
lalunya. Aku bukanlah kedua tipe ini, karena aku lebih memilih hidup di saat
ini (present) di sini, yang sudah terjadi biarlah terjadi dan yang berlalu
biarlah berlalu.
Karena bagiku sejauh ini berhasil,
ya berhasil setelah melalui serangkaian terapi panjang, saya berhasil membantu
diri saya menuju kondisi yang lebih baik, lebih tenang, lebih ikhlas. Menemukan
goals untuk menjadi (on becoming a person)
di kehidupan masa depan (present) dan
mampu hidup di saat ini (here and now). Duhai
Allah, aku ikhlas atas takdir yang Engkau tetapkan untukku, dan bantulah aku
untuk membuat kehidupan ini menjadi lebih bermakna dan aku bahagia menjalani
kehidupan ini Alhamdulillah...
Salam Ikhlas, 6 Ramadhan 1440 H
dp-
Supaya lebih
semangat dalam membantu orang; Ada pepatah mengatakan pekerjaan yang mulia
adalah membantu orang dan sebuah riwayat Hadits Abu Dawud no 3643; Dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda; “Barang siapa yang melapangkan
satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan
di hari kiamat. Barang siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan maka
Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya dari kesulitan di dunia dan akhirat.
Baarakallahu fikum…



Komentar
Posting Komentar