From Suffering to Savoring
From
Suffering to Savoring
Maka Allah ilhamkan kepada jiwa
keburukan dan kebaikannya sungguh berbahagia orang yang mengembangkan
kebaikannya. (QS. As-syams.8-9)
Himpunan jeda-aksara
pada lembar-lembar berikut akan mengisahkan sebuah proses dinamika kehidupan
hingga akhirnya menikmati. Dari rentetan pertanyaan menuju jawaban, dari ucapan
hingga menjadi kenyataan. Sebuah proses melawan segala bentuk ketakutan untuk hidup
yang lebih baik dengan cara paling mulia. Perjalanan untuk sampai pada titik
tertentu, perlu menemukan satu kejadian dalam kehidupan yang membuat kita
memiliki pengalaman hidup yang bermakna, seperti pengalaman perjalanan
menghadapi keterpisahan, hidup dengan setumpuk tanda tanya, hingga perlawanan
batin yang memenjarakan dan itu semua telah menjadi sebuah memoar untuk sampai
pada menikmati.
Ingatkah kita pada
satu peristiwa dalam kehidupan, di mana ketika kita mengubah jalan hidup?
Banyak hal yang kita temui dalam kehidupan, bukan kah seperti itu? Berapa
banyak tempat yang kita singgahi dalam peristiwa kehidupan? sungguh tak
terhingga. Mungkin dalam perjalan itu kita bertemu dengan seorang guru yang
menasihati dengan satu kalimat dan kalimat itu lah yang mengubah cara kita
memandang sebuah kehidupan atau bahkan menyaksikan pemandangan yang sangat
menyentuh dan kita merasa disadarkan pada kenyataan yang selama ini mungkin
terabaikan. Di tengah perjalanan itu pula kita merekam semua pengalaman, baik itu
positif maupun negatif dan pengalaman itu masuk terekam oleh otak kita. Dari
pengalaman itu lah ada sebagian orang
yang belajar dan ada pula yang menjadi terpuruk dengan kejadian masa
lalunya, yang kemudian muncul kembali menjadi sebuah trauma.
Peristiwa – peristiwa
itu bisa menjadi titik balik dalam kehidupan, bahwasanya apa yang terjadi
adalah bagian dari episodik kehidupan. Pengalaman yang tidak menyenangkan atau
peristiwa traumatis yang dialami seseorang selalu meninggalkan bekas yang
mengganggu kehidupan, sehingga menyebabkan ketidakmampuan dalam mengendalikan
rasa takut yang berlebihan dan cenderung tidak mampu mengontrol diri yang
berakibat munculnya sebuah respon maladaptif yang bisa berdampak pada gangguan
stres yang berkepanjangan (acute stress
disorder). Trauma seringkali membuat orang sulit untuk melakukan building relationship, karena mengalami
sebuah paparan maka dari itu orang yang trauma harus diyakinkan bahwasanya ada
hal baru dan itu artinya apakah emosi negatifnya akan hilang? Tentunya tidak,
akan tetapi memberikan sebuah cara
bagaimana melepaskan emosi negatif supaya bisa terfasilitasi dengan baik dan
memiliki daya imun psikologis yang tebal.
Sehingga respon dari kondisi itu membuat dia semakin kuat dan adaptif.
Seseorang bebas dari trauma salah satunya adalah struggles.
Struggle
adalah konsep
dimana kita kuat dan bisa mengahadapi sebuah realita. Bagaimana kita bisa dalam
kondisi psikologis yang stres, seperti: “Saya
bisa bertahan dalam situasi apapun dan seberapa pun menyakitkan”
Kita memang tidak
bisa menghindari penderitaan, tetapi kita bisa memilih cara mengatasinya,
menemukan makna di dalamnya, dan melangkah maju dengan tujuan yang baru. Dalam
Islam penderitaan mempunyai makna sebuah keindahan dibalik musibah dan lebih
jelas lagi beberapa ayat Al-Quran menjelaskan tentang penderitaan dan
keindahannya. Ada juga beberapa pandangan dari para pemikir barat salah satunya
pemikiran Victor E. Frankl tentang makna penderitaan (suffering). Frankl merupakan seorang psikiatri
yang mengalami secara langsung
pengalaman yang menyakitkan dan menyiksanya di Kamp Konsentrasi saat
kekejaman Nazi pada Perang Dunia Kedua, pemikirannya berubah setelah dia
mengalami sendiri bagaimana cara untuk bertahan hidup di dalam kondisi yang
menderita sehingga lahirlah sebuah pemikiran teoritisnya tentang logotherapy (terapi pemaknaan). “Eitssss”
tenang, tentu saja pemikir
Islam mempunyai pandangan yang berbeda dari semua sisi dan tentunya lebih luas
maknanya. Insya Allah banyak, kita dapat mengompilasikan keilmuannya dalam memahami
dan mengartikan manusia dan penderitaannya, yakni bagaimana seseorang bisa
bertahan dalam kondisi menghadapi ujian. Siapa pun pemikirnya, semua ilmu hanya
milik Allah SWT Sang Pemilik Semesta dan kita berhak memperolehnya.
Peristiwa traumatis dapat terjadi kepada
siapa saja. Seseorang bisa secara tiba-tiba mengalami kejadian tidak
menyenangkan dalam hidupnya, sehingga
menyebabkan trauma. Peristiwa tersebut datang tanpa mampu kita
prediksi sebelumnya, sehingga kondisi psikologis pun menjadi
terganggu.
Tetapi berbeda untuk orang yang memiliki resiliensi yang
tinggi, dia akan membingkai ulang peristiwa negatif itu dengan hal yang
positif. Kejadian di masa lalu yang bahagia memang menjadi sebuah harapan untuk
masa sekarang dan mendapatkan sensasi dari pengalaman tersebut, tetapi tidak bisa
dipungkiri bahwasanya pengalaman negatif juga pernah dirasakan. Pengalaman negatif
ini akan memberikan sebuah makna yang besar ketika dilihat dari sisi yang
berbeda.
Bagaimana dengan resiliensi dan apa itu
resiliensi? Resiliensi merupakan istilah daya tahan psikologis untuk mengatasi penderitaan hidup
dan bisa melenting balik (bounch back) sehingga mampu kembali hidup
secara normal. Lalu, apakah orang yang dengan
resiliensinya tinggi/bagus bisa mengalami down?
Tentu saja, tapi yang perlu kita pahami (understable),
bahwa resiliensi juga seperti baterai
handphone yang bisa habis dan harus dicharger
ketika habis (low). Begitu pun
dengan resiliensi perlu senanstiasa ditingkatkan. Hanya terkadang kita selalu
salah tempat dalam menchargernya, terkadang dari kita menganggap orang
yang kita sayangi sebagai pusat charger resiliensi,
itulah mengapa betapa kita selalu lupa bahwasanya mereka orang yang kita
sayangi berada diluar kapasitas kita. Mereka memang menjadi emotional support bagi kita dalam
kondisi tertentu dan mereka juga memberikan sumbangsih terhadap daya tahan
psikologis (resiliensi) kita, tapi ada hal yang perlu dipahami bahwa orang lain
tidak bisa membuat kita tetap memiliki daya resiliensi yang kuat. Orang lain
bisa menjadi sumber motivasi bagi kita dalam kondisi tertentu, tapi juga
sebaliknya bisa menjadi sumber kekecewaan. Sekali lagi orang lain berada diluar
kapasitas kita dan diri kita lah yang mengontrolnya. Justru sumber utama
charger dari resiliensi adalah diri kita sendiri yang harus senantiasa
menchargernya supaya tetap stabil manakala bertemu dengan kondisi down.
Mengapa demikian? Sebab permasalahan terjadi manakala kita
berpusat pada orang lain, dan menggantungkan mereka sebagai kekuatan bagi kita
untuk tetap survive dalam menjalani riak kehidupan. Inilah yang terjadi ketika
kita memusatkan charger resiliensi
pada orang lain, maka tak heran mengapa ketika kita kehilangan orang yang kita
sayangi, hilang juga daya tahan psikologis (resiliensi) kita? Atau bahkan
ketika mereka hilang, menjauh, membuat kecewa, sedih dan marah, seolah daya
tahan psikologis kita menurun dan berbalik? Alasannya adalah orang lain yang
sebetulnya bisa membuat kita relapse (kambuh) kembali manakala kita
bertemu di situasi yang lain. Sebab dalam terminologi Tauhid pun berharap
kepada selain Allah akhirnya selalu kecewa, seperti perkataan Iman Syafi’i rahimahullah;
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada
seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya
kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia.
Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap
kepada-Nya.” Jelaslah apabila kita chargingnya
ke atas (horizontal) maka hasilnya no limit, berbeda jika pusatnya vertikal
(kepada orang lain) hanya seutas harapan yang didapat kemudian relapse kembali.
Inilah semua yang
saya pelajari, intisari dan nasihat yang selalu dilemparkan kepada saya yang
sejatinya individu yang berkembang, belajar dan bertransisi dari sebuah
pengalaman yang tidak menyenangkan. Seperti manusia pada umumnya pernah
mengalami kejadian yang menekan di luar pengalaman. Tapi akhirnya disadarkan melalui petunjukNya, rahmatNya dan
karunia-Nya sehingga saya berada di zona saat ini, di mana saya belajar ilmu
kehidupan dan tentunya saya selalu diingatkan oleh-Nya melalui orang-orang yang
hebat dan kejadian yang tak terduga. Pernah di satu waktu ditanya oleh seorang
dosen dan pertanyaannya itu adalah “Mengapa kita merasakan penderitaan?
Seketika terdiam, kemudian ditanya kembali “Mengapa kita merasakan emosi
negatif? “Kemudian saya jawab, supaya kita bisa belajar mengambil hikmahnya”
dan tentu jawaban saya salah.
Ternyata emosi negatif itu harus ada, karena untuk
menyeimbangkan emosi positif. Karena dalam realitas, asal mula bahagia menurut
kajian psikologi positif, asal mula bahagia itu identik dengan tidak adanya
kekecawaan, tidak adanya ketidaksenangan dan adanya kesenangan. Padahal bahagia
itu sebetulnya, kita tetap mengalami sakit, kekecawan tidak senang, sedih dsb,
tapi yang membedakan adalah sebuah respon. Emosi negatif ada tapi respon kita
terhadap itu bagaimana sehingga kita menjadi stabil dan struggle. Karena pada
dasarnya kebahagiaan dipengaruhi oleh dua emosi dasar yaitu
emosi positif dan emosi negatif (balanced).
Setiap
manusia pasti pernah terluka batinnya atau mengalami sakit hati, tetapi ada dua
pilihan saat manusia terluka batinnya. Yaitu pertama dia ijinkan dirinya
sembuh; kedua dia memilih tetap terluka dan menyimpan sekumpulan emosi negatif
yang tidak tertuntaskan. Tentunya saya memilih untuk sembuh, karena sakit itu
sinyal bahwasanya kita perlu untuk lebih kuat lagi meningkatkan imun psikologis
kita sehingga ketika itu kita bertemu dengan situasi yang serupa seperti down, kecewa, sedih, dan sakit hati daya
imun psikologis kita sudah tebal. Satu lagi Undertsable bisa
dimengerti, bahwasanya itu adalah emosi yang harus kita akui, bukan untuk
ditolak. Sebetulnya pain atau rasa
sakit itu tidak selalu menjadi emosi negatif tapi bisa menjadi sebuah sumber
keesensian, karena ada sebuah transformasi nilai dari rasa sakit itu. Hanya
tergantung kepada diri kita, apakah kita berkontemplasi untuk itu atau tidak. Sebab
saat kita mengalami sebuah kekecewaan
terhadap apapun itu, saat itu pula kita sering menjatuhkan diri kita tanpa
berpikir yang dalam.
Hidup
itu episodik, masalah pasti ada tapi respon yang dilakukan perlu diperhatikan,
terkadang kadar masalah itu tergantung respon kita. Pertama ada yang
meresponnya dengan respon fight (menghadapi)
yaitu sebuah respon yang memiliki daya resiliensi yang bagus artinya sehat
secara mental, memiliki kemampuan pola vulnerability
yaitu kemampuan yang ujung-ujungnya adalah sebuah adaptasi/ daya fleksibilitas.
Kedua respon flight (menghindar)
sebuah respon tidak mau menerima sebuah realitas artinya melakukan resistensi
(penolakan) dan avoidance (penghindaran). Ketiga freeze respon ini identik dengan delay atau respon diam, seperti halnya anak –anak ketika mengalami
sebuah goncangan psikologis maka reaksi anak adalah diam tidak bisa melawan
atau pun menghindar. Tetapi hal ini bisa sangat berbahaya karena respon seperti
ini semacam bom waktu, yang bisa meledak di kemudian hari.
Ada
juga beberapa tipologi orang pertama
struggle, memiliki resiliensi yang bagus sehingga stabil dan dia langsung mengalami
Posttraumatic Growth, dia akan
memandang yang dia terima dan alami sebagai episode menyakitkan dalam kehidupan
yang perlu dia terima. Kedua Delay,
awalnya biasa-biasa saja, tapi hari ke hari mulai terasa bahkan mungkin dalam
jangka beberapa bulan baru terasa. Delay, seperti sebuah bom yang meledak
karena ada kandungan emosi yang belum tersalurkan. Delay ini identik dengan
gangguan yang sangat fatal dalam kajian kesehatan mental sehingga bisa
menyebabkan seseorang mengalami PTSD (post
traumatic stress disorder). Dan ketiga kronis dari awal terjadi pun berontak,
enggan menerima realitas yang terjadi, sehingga dia mengalami sebuah perilaku
abnormal, mengapa abnormal? Dia mengalami sebuah goncangan psikologis yang
hebat, yang artinya dia tidak bisa merespon secara positif apa yang terjadi dan
yang mengubah hidupnya.
Manusia bisa merencanakan dan
mengubah dirinya dari kondisi buruk kepada keadaan yang lebih baik lagi.
Kemampuan ini disebut sebagai transendensi diri (self transcendence)
yang memungkinkan manusia mampu (alih dimensi), misalnya melepaskan perhatian
dari kondisi saat ini dan memusatkan perhatian kepada kondisi yang diinginkan,
dari the actual self kepada the
ideal self, atau dari being ke meaning.
Transendensi adalah pengalaman yang
membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar dari pengalaman kita yang biasa, ke
luar dari suka dan duka, ke luar dari diri kita yang sekarang ke konteks yang
lebih luas. Pengalaman transendensi adalah pengalaman spiritual. Kita
dihadapkan pada makna akhir “the ultimate meaning” yang menyadarkan kita
akan aturan Maha Agung-Nya yang mengatur Alam
Semesta. Kita menjadi bagian penting dalam aturan ini. Apa yang kita lakukan
mengikuti rancangan besar-Nya “grand design” yang ditampakkan kepada
kita dan inilah kualitas-kualitas insani yang tidak dimiliki oleh
makhluk-makhluk lain.
Kehidupan akan
senantiasa mengalami perubahan dan perubahan itu sendiri adalah sebuah
keniscayaan, itulah yang membuat manusia tetap survive dalam hidup. Sebuah
usaha eksistensi yang tetap dibangun untuk tujuan hidup yang lebih bermakna. Sekalipun penderitaan demikian luar biasa,
Iman, Ihsan dan Ikhlas harus tetap terjaga dan selalu berupaya menghargai dan
menghayati hidup menjadi lebih bermakna serta pencapaian gratitude terhadap Sang Pencipta. Sehingga sampai lah kita menemukan
makna (hikmah) di balik penderitaan itu (Meaning in Suffering). Sebetulnya
sederhana kita hanya
perlu mengikuti alur-Nya dengan penuh keikhlasan tanpa ada prasangka buruk
terhadap rencana-Nya dan hanya fokus untuk membuat kehidupan ini menjadi
bermakna, sehingga kita bisa menggapai ridha-Nya dan berbahagia bersama orang
yang kita sayangi di surga-Nya. Maka sudah
semestinya kita menghimpun semua duka, luka, dan keluh kesah kita tumpahkan
dalam sujud yang lama dan rasakan kesyahduan dan kenikmatan ketika kita
luangkan waktu untuk diri dengan mushaf tergenggam jemari, air mata mengaliri
pipi dan Allah hadir Akbar-Nya dalam hati.
Satu tingkat di atas
konsep kebermaknaan hidup sebagai penggerak perilaku manusia, saya merasakan
dan memahami bahwa, motivasi
utama manusia untuk berperilaku adalah ibadah. Dengan beribadah kepada-Nya, hidup akan lebih terarah pada tujuan
yang baik dan tahan menghadapi berbagai hambatan. Doa dan dzikir (sebagai inti
ibadah) sangat diperlukan dalam upaya meraih hidup bermakna.
Hal
yang sama pada umumnya ketika saya mengalami sebuah peristiwa yang tidak
menyenangkan, saya pun manusia biasa yang punya kelemahan dan rapuh ketika
dihadapkan dengan kondisi menyedihkan,
tapi saya belajar dari sebuah peristiwa itu dan ternyata benar, sebetulnya cara
kita merespon kondisi itu yang seringkali tidak tepat. Itulah mengapa judulnya dari
penderitaan hingga menikmati karena peristiwa atau kejadian yang tidak
menyenangkan membuat orang suffer (menderita)
membawa orang keluar dari zona nyaman dan kebahagiaan. Tapi sebetulnya saya
belajar pembiasaan karena apa yang saya jalani membuat saya harus keluar dari
zona kebiasaan, membiasakan diri sengan sesuatu yang sebetulnya tidak enak (that’s
not comfort). Tapi saat ini saya yakin bahwa jalan ini bisa membuat diri
menjadi lebih bermakna hingga akhirnya menikmati. FROM SUFFERING TO SAVORING.
Ps: Saya coba sederhanakan menjadi sebuah kesimpulan
bahwa belajar di BK adalah belajar tentang ilmu kehidupan. Mengapa saya berani
mengatakan demikian? Di awali dengan pernyataan dosen bahwa beajar di bimbingan
dan konseling adalah belajar kehidupan. Awalnya abstrak namun setelah hari ini
memasuki tingkat akhir sangat dirasakan kebermanfaatannya. Di awal semester
sudah disajikan dasar-dasar pemahaman perilaku yang notabene adalah perilaku
yang seringkali kita lakukan dan kita amati di lingkungan sekitar kita.
Perkembangan individu yang membuka mata dan pikiran kita tentang bagaimana
hakikat manusia seutuhnya, dan mata kuliah lainnya yang tidak bisa disampaikan
satu persatu. Kita praktikan dalam keseharian kita.
Tingkat akhir adalah masa di mana
penyesalan-penyesalan itu muncul. Sadar bahwa seharusnya berkarya itu sejak
awal kuliah, karena waktu dari awal kuliah adalah energi yang baru dan
terbarukan. Bertebaran lomba-lomba dan wahana masyarakat yang menanti karya
kita, belum termanfaatkan dengan baik. Maka, semoga jadi pelajaran untuk
adik-adik tingkat. Agar mampu menyerap ilmu kehidupan ketika kuliah di BK, bagaimana kita memandangnya
dan menyikapi ilmu-ilmu yang kita terima saat perkuliahan. Terlepas dari apakah
kita mendapatkan nilai sempurna dari hal itu atau tidak. Ambil kebermaknannya,
amalkan lalu sebarkan. Kini, waktu itu telah menuju akhir. Skripsi yang menanti yang sudah di depan
mata menjadi stage terakhir untuk all out atau kompensasi dari kecelakaan
kecelakaan sejarah yang semester sebelumnya tidak dimanfaatkan dengan baik.
Berbahagialah, beruntunglah, dan
bersyukurlah mahasiswa tingkat 1,2 dan 3 yang masih memiliki harapan panjang
untuk berkarya dan mengambil manfaat dari kuliah BK juga mendapatkan intisari
ilmu kehidupan.
Selamat mencari kebermaknaan dan tujuan eksistensi :)
Tasikmalaya,
30 September 2019
dp-



Komentar
Posting Komentar