cerpen dia itu guruku
Dalam dinginnya pagi yang menciptakan
butir-butir embun kuberjalan menyusuri terjalnya kehidupan, ditemani desiran
angin yang menyejukkan badan, kulewati demi kewajibanku sebagai seorang siswa,
begitu pula dia yang selalu hadir paling awal, kendaraannya selalu terparkir
paling depan diantara kendaraan lain, dan biasanya kendaraan yang terparkir
paling depan itulah yang datang ke sekolah paling awal, lebih awal dari
murid-muridnya, bahkan lebih awal dariku yang rumahnya tak jauh dari sekolah.
Salah satu yang menjadi inspirasiku adalah semangatnya, meski di dera sakit
sekalipun ia tak pernah patah arang, ia tetap mengajar…. Mengajar tanpa letih
dan ia lakukan bukan karena profesinya sebagai guru, tapi semata-mata karena
Alloh. Memberikan yang terbaik adalah harapannya, pantas kata kagum selalu
terlontar untukknya. Tak pernah terlintas dibenakku sebelumnya sosok insan yang berjasa dalam hidupku, sosok insan yang
telah menggerakkan kakiku tuk melangkah sejauh ini, yang telah menyadarkanku
bahwa aku dapat terbang menggapai harapanku. Ribuan ilmu dia curahkan padaku
berbagai pengalamannya ia ceritakan padaku hingga aku kenal betul dengan guru
itu. Sebenarnya siapa dia?? Dan dari mana asalnya. Kenapa dulu saat pertama
masuk Sekolah ini aku tidak melihatnya, bahkan tidak tahu siapa namanya
tiba-tiba saja dia menjadi wali kelasku dan menjadi sosok yang paling kukagumi
di sekolah. Padahal kalau dipikir, ada banyak pengajar yang aku kagumi tapi
kenapa yang menjadi sorotanku hanya dia, ibarat lirik lagu “Sungguh Aneh Tapi
Nyata.” Karakternyayang susah ditebak selalu membuatku penasaran, untuk
mengulik lebih dalam lagi karakternya. Sungguh karakternyaunik, khas dan luar
biasa. Baru kali ini aku bertemu dengan pengajar seperti itu, aku merasa
beruntung pernah diajarinya, mendapatkan ilmu-ilmunya dan pengalaman hidup darinya.
Tapi sungguh disayangkan aku tak mampu membalasnya bahkan dia berkata padaku
sampai saat ini belum bisa memberikan yang terbaik. Padahal apapun yang dia berikan padaku dan
juga teman-teman itulah yang terbaik dan itu bukan hal yang sepele. Tapi aku
selalu membuatnya kecewa dan kecewa, aku tak pernah memberikan hasil yang
maksimal atas apa yang ia ajarkan padaku entah mengapa itu bisa
terjadi.Sehingga dia selalu mengatakan merasa belum bisa memberikan yang
terbaik.Setiap kali ulangan mata pelajarannya aku selalu mendapat nilai kecil.
Aku malu padanya, padahal sewaktu di SMP pelajaran itu yang paling
aku sukai dan tak pernah mendapatkan nilai kecil. Sampai suatu hari dia
pernah memberikanku sebuah nasihat.
“ Put ibu mau bicara?” Tanya guru
“ Iya Ibu mau bicara apa.” Jawabku
“ Nanti saja.” Jawabnya serius
“ Apa ada yang salah denganku Bu?” Tanya serius
“ Nggak, gak ada yang salah, nanti aja.”
“ Baik kalau begitu.” Jawabku
“Sepanjang koridor kelas aku berpikir apa
yang telah aku lakukan, apa aku melakukan kesalahan, tapi kata Ibu gak ada yang
salah, atau jangan-jangan aku mendapat kopi pahit lagi, tapi Ibu pura-pura
bersikap tidak ada apa-apa. Sepertinya
serius, penasaran apa yang mau dibicarakannya” (Pikirku). Besoknya saat guru itu mengajar di
kelas, aku Tanya kembali.
“ Oh iya, kemarin Ibu mau bicara apa?” Tanyaku
“ Oh iya
Put, soal cerpen yang kemarin, lain kali kalau
terinspirasi dengan cerita orang lain hati-hati, takutnya nanti disebut
plagiat yah, Ibu tahu Putri suka menulis Ibu dukung Put.” Tukas Ibu.
“Emm iya Bu makasih udah ngasih tahu. Iya lain
kali aku akan lebih berhati-hati.” Menghela nafas.
Legarasanya, aku kira Ibu memarahiku ternyata tidak dia hanya menasihatiku.
Hemmada guru yang sebegitu pedulinya terhadap karya anak didiknya, padahal itu
bukan tugas darinya loh, itu hanya karya perlombaan.
Jarang-jarang ada guru yang mau
meluangkan waktunya di luar jam pelajaran, kalaupun ada yang peduli itu karena
tugas yang diberikannya. Anehnya kenapa guru itu bisa tahu kalau aku punya hobi
menulis, tahu dari siapa? aku tidak pernah mempublikasikan tulisanku dan tak
pernah bercerita tentang hobi menulisku kepada siapapun.
Ketika itu dia tidak hanya menasihatiku
tetapi bercerita banyak tentang pengalaman hidupnya. Sepertinya aku salah satu
siswa yang paling beruntung bisa bercerita banyak tentang pengalaman hidup dan
tentunya, bisa belajarjuga dari
pengalaman hidupnya.
“ Bu, dulu saat di SMP aku sukaaa banget
dengan mata pelajaran yang kini Ibu ajarkan, nilaiku juga tak pernah kecil loh,
tapi kenapa ya sekarang malah sebaliknya.” Tanyaku.
“ mungkin karena ibu kali gurunya, Ibu
terlalu cepat menerangkan.” jawab ibu sambil tersenyum.
“nggak Bu, kayaknya bukan karena soal itu
deh, justru aku suka dengan metode ibu
ketika mengajar dan juga gaya bahasa ibu ketika menerangkan, asyiik pula
belajar sama ibu itu, tapi entah kenapa
rasanya sulit ngerjain soal
ulangan dari ibu makanya nilaiku suka kecil.” Tukasku.
Sebenarnya sih tidak hanya aku saja yang merasakan, tapi menurut
teman-teman juga sama, soal ulangan yang diberikan guru itu memang sulit,
mudah terkecohkan.
“Ah masa , padahal kalau ibu ngasih soal
ulangan, soal-soalnya ibu sendiri yang buat!” tapi Put kalau hanya suka sama
gurunya ya pasti sulit, nih ibu punya pengalaman ” Jawab ibu.
Guru itu bercerita padaku bahwa dulu saat beliau SMA suka dengan mata
pelajaran PKN tapi sedikit tidak suka dengan gurunya.
“Kamu tahu Put, dulu saat Ibu SMA, punya
guru yang dalam nenarangkan materi kayak lagi dibisikin, mungkin yang mendengar
hanya bangku depan saja, aduuh ibu paling gak suka, tapi karena ibu suka sama
pelajarannya Ibu tetap dengarkan sambil konsentrasi untuk tetap fokus pada guru
itu, nih sekali lagi Ibu kasih tahu Put, pasti sulit kalau hanya suka sama
gurunya, tapi tidak suka dengan pelajarannya.” Tegas ibu.
“ tapi bu, bukan berarti aku tidak suka denganmata
pelajarannya, hanya merasa sulit aja ketika ulangan mata pelajaran itu, padahal
setiap kali mau ulangan aku belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan mata
pelajaran itu selalu aku proritaskan.” Jawabku.
“ ya mungkin belum Putri !percayalah bahwa
tiada usaha dan kerja keras yang sia-sia.” Tersenyum sambil meyakinkanku.
“iya mudah-mudahan seperti itu.” Kataku.
Nasihat yang sangat berarti, tetes katanya bak embun pagi yang menempel
di dedaunan takkan pernah aku lupakan
pembicaraan empat mata itu,. Senang rasanya bisa mengobrol banyak dengannya dan
berdiskusi mengenai kehidupan. Sebenarnya siapa dia ?? sosoknya yang tak asing membuatku
semakin penasaran, ingin sekali mengulik lebih dalam lagi karakternya. Aku coba
menyelami karakternya, bukan karena aku ‘so’ menyelami karakter orang, apalagi
yang di selami itu guru. Ya memang itu kepribadianku yang seperti itu, hobi
menyelami karakter orang. Banyak orang
yang mengira bahwa aku jiwa psikolog, makanya banyak orang yang berkonsultasi
kepadaku, padahal itu hanya cita-citaku menjadi psikolog bukan berarti aku
punya jiwa psikolog. Memang dalam test kepribadian dalam aspek memahami
perasaan orang lain menunjukan keterangan baik sekali, mungkin karena itu aku
bisa menjawab apa yang mereka konsulkan dan tahu karakternya. Selain itu,
mungkin dari Gestur dan gaya bahasa
ketika berbicara, aku bisa tahu karakter seseorang. Hal itu aku lakukan pada
guru itu, setiap kali beliau mengajar di kelas, yang aku amati ketika sedang
menerangkan ataupun sedang berbicara adalah gesturnya, yah dari sana aku tahu
karakternya seperti apa. Aku suka dengan karakternya yang seperti itu. mungkin
kali ini guru yang aku kagumi di lingkunganku yang baru adalah dia, nama
lengkapnya Dewi Zahrana, sering dipanggil Bu Zahra, beliau guru bahasa
Indonesia yang selama ini dekat denganku,
beliau yang tidak pernah menyembunyikan senyumnya setiap kali berjumpa
denganku, beliau masih muda, baik, perhatian pula. Kerendahan hati dan
kepeduliannya terhadap siswa membuat sosoknya dikagumi dan dihormati semua anak
didiknya termasuk aku. Yang menarik beliau dekat sekali dengan siswa. Bagiku
dia bukan sekedar pengajar biasa, tetapi dia seperti pahlawan RA. KARTINI di
abad milenium ketiga ini.
Tetapi tetap manusia hanya bisa mengenal karakter seseorang dari apa
yang tampak dipermukaan, apa yang tampak
di dalamnya tidak ada seorang pun yang tahu. Sedalam-dalamnya laut masih bisa
diukur tapi dalamnya hati dan perasaan seseorang tidak ada yang tahu kecuali Alloh
Azza Wa Jalla.Jadiapa yang tampak di permukaan guru itu yang aku tahu.
Karakter di luarnya juga menarik apalagi didalamnya. Teringat ketika beliau menjadi wali kelasku banyak hal yang beliau berikan terhadapku,
ada satu kalimat yang tidak bisa aku lupakan darinya, hingga aku benar-benar
kagum dengan guru itu dan tak mau berpisah dengan beliau, aku masih ingin
menimba ilmu-ilmunya, mendengarkan nasihat-nasihatnya. Hingga suatu hari saat
kenaikan kelas aku bertanya apa dia mengajar di kelas sebelas.
“Ibu mengajar di kelas sebelas tidak? Tanyaku.
“kemungkinan tidak Putri, Ibu masih mengajar
kelas sepuluh?” Jawab Ibu.
“L oh begitu ya, kirain Ibu ngajar kelas sebelas.”
“kenapa memangnya?” tanya Ibu.
“emm nggak kenapa-kenapa Bu, masih pengen sama
Ibu aja!.kataku.
“Sama siapa pun juga sama aja Put.” Sambil
tersenyum.
“ya kan setidaknya kalau masih sama Ibu gak
harus beradaptasi lagi.” Lirihku.
Jawaban yang pahit yang aku dengar, beliau tidak mengajar di kelas
sebelas, itu artinya aku harus beradaptasi dengan guru yang baru, sebenarnya
tidak jadi masalah beliau tidak mengajariku lagi di kelas sebelas, karena
tujuan dan niatku sekolah disini adalah mendapatkan ilmu dari semua guru yang
ada di sekolah ini dan mengenalinya satu persatu. Tapi ekspektasiku untuk
diajari oleh guru itu sangat besar, sampai keinginanku ini, selalu kuhadirkan dalam doa malamku, aku
ceritakan kepada sang pemilik semesta
ini bawha aku masih ingin belajar dengan guru itu, aku panjatkan harapanku pada
malam hari, karena pada malam hari pintu langit akan dibuka lebar dan jutaan
malaikat turun ke bumi, dan menyebar
untuk mendengarkan doa-doa orang yang bermunajat saat seluruh jiwa terlelap
dalam kesunyiaan.
Luar biasa saat naik ke kelas sebelas tiada disangka aku mendapat kabar
bahwa beliau mengajar di kelas sebelas, itu bukan sebuah kebetulan belaka,
tetapi itu harapan yang selalu kupanjatkan. Aku merasa ada hawa dingin yang
turun dari langit menetes deras, seketika itu aku bersyukur.
“Putri tahu gak, Bu Zahra mengajar lagi di kelasebelas
loh.”ucap Mala teman satu kelas di kelas sepuluh
“oh ya, kata siapa? bukankah beliau masih
mengajar di kelas sepuluh.” Tanyaku serius.
“iya aku
dapat kabar itu dari Bu Zahrana sendiri kalau beliau mengajar di kelas sebelas.
Katanya beliau juga menjadi wali kelas di IPS.”
“Wah itu kabar bagus, Alhamdulillah, aku masih
bisa menimba lebih banyak lagi ilmu dari guru itu.” Ucapku.
Aku merasa beruntung, saat kumenyadari bahwa sosok insan kiriman illahi
itu datang dalam kehidupanku, bak angin yang tertiup halus, membisikan
keberanian hingga tiada ketakutan yang bersembunyi dalam jiwa ini, dia ikut
andil dalam perjalanan hidupku, sampai kubisa melangkah sejauh ini, meskipun
beliau sendirinya tidak menyadari akan hali itu, tetapi secara tidak langsung
lewat tutur kata dan sikapnya saat mengajar di kelas, telah mengangkat hatiku
yang lemah tuk bangkit kembali, dari kerapuhan dan ketidakmampuan. Pernah aku lontarkan pujian
kepadanya, tapi malah merendah, padahal kan itu realita bukan sekedar frasa
ataupun kalmat. Dalam satu minggu, pelajarannya yang selalu aku nanti-nantikan
karena ada saja hal baru yang ia bawa ketika mengajar, tak pernah datang
terlambat selalu on time, bahkan selalu full time tapi memang itu yang paling
aku sukai, meskipun banyak orang yang tidak suka dengan guru yang seperti itu,
tapi aku siap, rela, mau belajar sampai larut sore dengan siapa pun itu gurunya
termasuk Bu zahra. Sungguh ironis ketika ada murid yang mengatainnya dengan
kata-kata yang terdengar tidak mengenakkan, padahal dia adalah salah satu guru
yang menurutku baik, aktif, inovatif, inspiratif lagi, ingin sekali aku
menindas kata kasar yang dilontarkan mereka, namun apa daya, kedudukanku sama
dengan mereka sama-sama murid. Aku paling tidak ikhlas kalau guruku di
kata-katain dengan bahasa yang tidak pantas termasuk ke Bu Zahra. Aneh, entah
apa yang ada dibenak mereka hingga dengan mudahnya mereka memvonis guru dengan
kata-kata kasar. Ya kalau memang pernah
ditegur, dihukum dan di kasih tugas yang agak sulit, menurutku itu hal yang
wajar karena tugas dan kewajiban mereka selaku orang tua di sekolah yaitu
mendidik dan mengajar.
Hidup manusia itu bak tarian seekor kupu-kupu, terkadang keatas
terkadang kebawah teramat semu. Demikianlah pelangi hidup manusia
senantiasa ada manis dan pahit.Tak dapat
kupungkiri, aku ada didalamnya, semangat adalah jalan untuk menjalani hidup apa
adanya. Semangat yang terpatri dalam diri guru itu yang membuatku termotivasi
untuk menjalani kehidupan seperti tarian seekor kupu-kupu. Aku kagum dengan
kepribadiannya yang selalu bersemangat dalam keadaan apapun, walau sepintas
wajah kusutnya terlihat membaluti pipi manisnya yang tampak lelah dan letih
ketika mengajar. Namun ia tetap melangkah dengan tegap dan tegas bersama api
semangatnya, rasa lelah dan letih itu ia sembunyikan di balik bajunya, dan ia
perlihatkan dengan senyuman yang selalu mekar
di garis bibirnya.
Sebagai siswa yang diajarkan olehnya tentu terdapat banyak kealpaan yang
sering membuatnya jengkel dan kesal sehingga tutur kata yang tak harus diucap
menutupi jati dirinya dan menghapus sosoknya yang penyabar, itu yang tidak
ingin aku lihat dari guru itu adalah marahnya. Aku paling tidak suka, tetapi itu
manusiawi karena ‘no body perfect’,
kesempurnaan hanyalah milik Alloh semata. Saat itu pernah teman-teman sekelasku
membuat guru itu kesal, Ibu menganggap telah
di ‘DO’ oleh kelasku. Waktu itu masih ada KBM di sekolah teman sekelasku
Vina mengadakan acara ultah sekaligus
syukuran kelulusan kakaknya, dia mengundang teman-teman sekelas termasuk aku
untuk hadir di acara itu, tadinya aku
tidak mau ikut ke acara itu, bukan karena aku tak menghargai undangan temanku
tetapi waktunya berbeda, masih berada pada jam sekolah, aku takut terjadi
sesuatu karena jika terjadi sesuatu pasti yang disalahkan adalah sekolah karena
kami masih berada dalam tanggung jawab sekolah, lalu temanku meminta izin
kepada piket untuk pergi ke acara itu, tetapi aku sendiri tidak yakin akan
mendapatkan izin dengan semudah itu mengingat KBM masih lama, tidak habis pikir
piket malah memberikan izin untuk keluar. Waktu itu aku tdak tahu siapa
piketnya kok dengan semudah itu memberikan izin, apa guru itu tidak merasa
riskan. Tidak mungkin kalau Bu Zahrapiketnya, kalau piketnya Ibu Zahra pasti
gak bakalan dikasih. Setelah mendapatkan surat izin keluar mereka meminta izin
kepada guru yang mengajar hari itu termasuk Bu Zahra yang mengajar di jam
terakhir. Temanku meminta kepadaku untuk memintakan izin ke Bu Zahra, mereka
tahu bahwa aku dekat dengan guru itu. Harapanku Ibu tidak akan memberikan
izinnya, karena aku tidak mau satu hari pun terlewat belajar dengan Bu Zahrana
jangan untuk hal itu, untuk halpenting
sekalipunaku tak ingin melewatkannya.
“Putri nih dari piket udah dapat izin sekarang
tinggal meminta izin ke Bu Siti sama Bu Zahrana, sana sama kamu mintanya kamu
kan deket sama Bu Zahrana.” Ucap Satria temanku.
“Nggak ah sana aja sama kamu, lagi pula beliau
sedang mengajar, apa hubungannya sama deket atau nggaknya.”ucapku sinis.
“ih cepetan Putri!, acaranya mau dimulai
sebentar lagi katanya.” Satria mendesak.
“kamu itu ya, maksa !, aku yakin meskipun aku
yang minta gak bakalan dikasih izin Satria, aku tahu beliau.” Mencoba cari
alasan.
“ihh kamu disuruh minta izin doang juga susah,
biarin aja gak diizinin juga yang penting udah ngomong Putri, paling-paling
ngambeknya cuma satu atau dua hari.”mendesak.
“kamu jangan nyepelein Satria, sekarang kamu
bisa berbicara seperti itu, gimana kalau beliau tidak mau mengajar di kelas
kita lagi heeuuh.”kataku.
“cepet sana, itu lagi mengajar di IPA 2.”
“tapi kalian janji lepas dzuhur kalian kesini
lagi gak lama kan disananya.”kataku
“banyak ngomong kamu, cepet siang nih si Vina
udah sms.”
Terpaksa aku pergi menemui Bu Zahra untuk
meminita izin. Aku melangkah memberanikan diri menemui Bu Zahra sambil
menggerutu. “Dasar tukang obat, kalau bukan karena Vina yang minta aku gak mau disuruh sama kamu.”
“Tuk...tuk...tuk...Assalamualaikum.”ucapku
sambil mengetuk pintu
“Waalaikumsalam...”jawab IPA 2 dan Bu Zahrana.
“Iya Put mau kesiapa?” ucap Bu Zahrana.
“Ada perlu sama Ibu sebentar.”kataku.
“Iya sebentar Put.” Melangkah keluar
“ ada apa?” Tanya Ibu
“emm gimana ya bicaranya...begini Bu, mau
meminta izin, hari ini kan Ibu mengajar di kelasku takutnya nanti belum sampai
disini lepas dzuhur, soalnya IPA 1 mau izin semua sampai jam pelajaran 5-6, InsyaAlloh kesini
lagi jam pelajaran Ibu.”jawabku.
“memangnya kalian mau pada kemana?”Tanya Ibu.
“ ke acara Ultahnya Vina Bu sama syukuran
kelulusan kakaknya.”
“dimana Putri? Kok acaranya lagi sekolah”
“ gak tahu aku juga Bu.” Kataku.
“kalian udah meminta izin sama piket?”
“Sudah Bu, bahkan udah dikasih izin.”
“meskipun udah dikasih izin sama piket, ibutetap merasa riskan,
soalnya masih ada KBM kalian masih tanggung jawab sekolah, kalau ada apa-apa
sama kalian kansekolah yang
disalahkan”tukasIbu.
“iya itu benar Ibu, tapi itu anak-anak yang
memaksa.” Ucapku.
“ya sudahlah terserah kalian saja, yang pasti
ibu riskan.”
Setelah meminta izin, dengan terpaksa aku ikut ke rumah Vina, aku mau,
karena aku menghormati Vina dan juga
orang tuanya. Sebenarnya pekerjaanku juga di OSIS masih banyak setidaknya saat guru tidak masuk ke kelas aku gunakan waktunya untuk
mengerjakan kerjaan itu. mengingat banyak kegiatan di OSIS pada bulan itu. setelah dzuhur aku harus
sudah ada di sekolah, mudah-mudahan aku bisa mengajak mereka untuk kembali
belajar pelajaran terakhir di sekolah,
ternyata tidak mereka malah asyik dengan acara itu, aku marah, aku kembali ke
sekolah naik umum. Pas banget saat tiba di sekolah aku dipaggil sama Pembina
OSIS ke ruang guru.
“Put, darimana?” Bapak panggil katannya
lagi ke acara Ultahnya Vina.” Tanya
Pembina OSIS
“ iya pak tadi
abis dari sana.” Jawabku
“udah selesai acaranya?”
“belum selesai pak.”
“kalau belum selesai, kenapa udah balik lagi
kesini Put?” sambil tersenyum .
“Tinggal acara hiburan pak, lagi pula masih ada
jam pelajaran sama ada kerjaan di OSIS yang belum selesai, makanya pulang
duluan.”Tukasku.
“oh begitu ya, puisi untuk FLS2N udah siap,
coba Bapak lihat.”
“ oh ini Pak sudah.”
“coba perlihatkan dulu sama Bu Zahrana, soalnya
Bapak tidak banyak tahu tentang puisi.”Tukas Bapak.
Di pojok aku melihat Bu Zahrana tengah duduk beristirahat, seharusnya
hari ini beliau sedang mengajar di
kelasku kalau anak-anaknya ada. Aku menghampiri beliau dengan kepala tertunduk
merasa bersalah. Baru saja mau berbicara udah keduluan.
“Ibu di ‘DO’ sama kalian, katanya mana mau
kesini lagi?” ucap Bu Zahrana yang kelihatanya kesal.
“emmm aanu ibu... masih disana.” Jawabku.
“memangnya acaranya apa saja sih?”Tanya Ibu.
“tadi sih masih hiburan, ah Bu cuma makan-makan
saja.”
“kalau cuma makan-makan saja, pulangsekolahjugabisa,teruskenapa masih disana.” Ucap Ibu.
“gak tahu Bu, udah aku ajak, tapi mereka gak
mau.” Kataku
“mana puisinya coba ibu lihat.” Pinta Ibu.
Aku berikan puisi itu sama Bu Zahra, beliau baca dan koreksi,
Alhamdulillah banyak sekali kontribusi yang diberikan oleh Bu Zahra, seperti
sebelum-sebelumnya, memberikanku nasihat, kritik dan saran yang siftnya membangun. Aku tidak tahu hari
itu entah hari yang menyenangkan atau sebaliknya, disisi lain aku senang Ibu
Zahra kembali menjadi mentorku,mau mengoreksi segala kekurangan dalam
tulisanku. Disisi lain juga aku merasa bersalah kepada beliau telah men’DO’
pelajarannya. aku bisa melihat raut muka kesal ibu tadi.
Minggu besoknya saat Bu zahra masuk, tiba-tiba kelasku mendadak menjadi
kelam, raut muka yang berbeda terpancar
dari wajah bu Zahra, tak biasanya aku melihat beliau seperti itu, membuatku
takut. Rasanya dinding-dinding ikut membeku, aku melihat setiap mata
berkaca-kaca, diam membeku melihat wajah Bu Zahra yang seperti itu, aku melihat dibalik matanya
ada rasa kesal, kenapa semua ini bisa terjadi pada kelasku?? (Pikirku dalam
hati). Ternyata benar beliau marah tapi secara tersirat, sebegitunya beliau
marah pada kelasku sampai berkata “
Mulai saat ini Ibu tidak akan memperdulikan lagi kehadiran, ibu memberi
kebebasan untuk kalian, silakan apabila kalian mau hadir pada pelajaran ibu
atau tidak, ataupun tidak bisa hadir karena sakit, atau izin. Ibu tidak akan
menanyakannya dan kalian tenang saja tidak akan berpengaruh pada nilai, Ibu
hanya memberikan kebebasan pada kalian.” Dengan suara yang saaaangat halus.
Jlebb.... rasanya hati ini seperti di tusuk-tusuk jarum suntikan,
kata-katanya yang terdengar memanjakan namun konotasi. Rasanya lebih pedih dan
sakit saat dimarahi secara tersurat.
Tidak ada yang berani menanggapi, semua diam membisu.
Berminggu-minggu beliau seperti itu pada kelasku, sungguh aku merindukan Bu
Zahrana yang dulu, aku merindukan canda tawanya saat mengajar, kemana Bu
Zahrana yang dulu.
Hingga kenaikan kelas pun Bu Zahrana masih tetap beda, aku sampaikan
permohonan maafku dan teman-teman kepada beliau lewat sms, Alhamdulillah beliau
meresponnya dengan baik, itu artinya beliau sudah tidak marah lagi. Namun aku
merasa kehilangan sosok guru seperti dia. Mulai kelastiga nanti aku sudah tidak
diajar lagi olehbeliau.Meskipun aku tak mengharapakan lagi untuk belajar dengan
beliau, namun tetap hati kecilku tidak bisa dibohongi, bahwa aku selalu
merindukan sosok guru itu di kelas. Aku tidak meminta Bu Zahra untuk mengajar
lagi di kelasku.Seperti dulu saat naik ke kelas duaaku selalu berdoa agar Bu
Zahra tetap mengajar di kelasku, tapi kini yang aku inginkan adalah bagaimana
nilai bahasa Indonesiaku bisa baik dan tidak mendapat remedial saat ulangan,
sebenarnya nilai bukan segala-galanya bagiku, yang paling terpenting bagaimana
ilmu yang diberikan oleh Bu Zahra bisa bermanfaat, khususnya untukku. Disisi
lain nilai sangat dibutuhkan sebagai tolok ukur pencapaianku selama menuntut
ilmu di sekolah, apa yang akan aku perlihatkan
kepada orang tuaku dari hasil belajaryang aku tempuh, kalau bukan dengan
nilai. Masa orang tuaku menanyakan “arti paragraf deduktif” nggak kan yang
pasti nilainya yang ditanya. Aku pikir
setelah kelas tiga nanti aku bisa memperbaikinya kalau pun harus diganti dengan
guru lain, karena aku yakin kalau masih tetap sama Bu Zahra, aku hanya akan
membuatnya kecewa.
Setelah kelas tiga Alhamdulillah banyak sekali perubahan yang cukup
signifikan, mulai dari nilai bahasa indonesiaku serta mata pelajaran yang
lainnya. Ada banyak hal yang berubah namun ada pula yang tak berubah seperti
kerinduaku kepada sosok guru yang sangat aku segani sejak kelas sepuluh, tapi
bukan berarti aku tidak suka dengan guru bahasa Indonesiaku yang sekarang,
bahkan aku suka banget dengan guruku yang sekarang, ya meskipun diawal aku
merasa tidak nyaman diajar oleh beliau. Bahkan aku merasa bahagia dengan
seperti ini bisa mendapatkan ilmu dari guru lain juga. Adakalanya kerinduanku
terhadap Bu guru Zahrana menjelma seperti serigala dengan seringai berkilat dan
kuku tajam yang tak mudah meninggalkan jejak, aku selalu teringat dengan beliau
ketika tengah belajar bahasa Indonesia. Aku rindu sama Bu Zahra, rindu ingin
bertemu lagi dalam satu kegiatan, rindu dengan gaya bahasanya, suaranya,
candaannya dan yang tak kalah rindu adalah juteknya, kapan Bu Zahra bias datang
lagi ke ke kelasku, aku rindu dengan juteknya Bu Zahra sama IPA 1.
Kala itu hari menjelang sore mentari kian menjauh dari peredarannya
warnanya pun kian langsat dan pudar,
saat keramaian menepi dari setiap sudut begitu pula dengan seluruh jiwa, saat
kesunyian membelah, kutertatih di sudutruang sunyi,menunggu misi terselesaikan,
seleksak mataku berkaca-kaca saat terdengar suara di salah satu ruangan,
gemersik angin yang datang dari kejauhan menyertainnya, membuatku penasaran,
kulihat waktu menunjukan hari semakin sore, suara bercengkerama itu semakin
terdengar jelas, suara yang tak asing ditelinga, kutanyakan pada temanku Gisel
mendengar suara itu atau tidak.”
“iya denger, mungkin masih ada yang belajar
kali Put.” Jawab Gisel.
“masa jam segini masih ada yang belajar.”ucapku
heran.
“mungkin saja.”lirih Gisel
“penasaran, kita lihat yuk?” ajakku
Suara itu membuatku penasaran
kemudian kususuri semua ruangan. “ masih ada jiwa yang hadir.” (pikirku)
dan.... sorotanku tertuju pada satu ruangan, lewat jendela, kulihat sosok yang
tak asing dimataku tengah bercengkerama yah... dia guruku yang paling aku
kagumi tengah mengajar dengan gaya bahasa dan suara khasnya yang selalu
membuatku rindu dan rindu, sungguh pahlawan yang tak lekang oleh waktu,
pahlawan yang tak kenal lelah, jiwa spiritnya
seperti ombak yang menghantam-hantam karang, luar biasa disaat orang lain sudah
duduk santai beristirahat tapi dia masih
bersemangat mengajar.
Bukan manusia namanya kalau tak luput dari kesalahan, ada pribahasa ,
tiada gading yang tak retak, tiada yang sempurna di dunia ini bukan?? Begitu pun aku dan Bu Zahra manusiawi tidak
luput dari kesalahan, aku pernah membuat Ibu kecewa, begitu pula aku, pernah
dibuat kecewa oleh Bu Zahra. Waktu itu aku kecewa dengan sikapnya yang beda,
tidak seperti biasanya jika bertemu tidak pernah menyembunyikan senyumnya, tapi
hari itu dia sembunyikan senyumnya, sedih rasanya jika bertemu dengan
seseorang, oleh kita diberi sapaan dan senyuman tapi tidak dibalasnya, apalagi
dia sosok orang yang aku segani kalau kata lirik lagu “sakitnya tuh disini
didalam hatiku”. Entah kenapa Ibu seperti itu aku tidak tahu, tapi aku berpikir
positif saja, mungkin beliau sedang ada masalah makanya sikapnya beda, itu yang
paling buat aku kecewa, ada suatu waktujuga yang membuatku kecewa dengan Bu
Zahra, tapi menurutku itu tidak terlalu kecewa. Saat beliau tidak bisa hadir dalam kegiatan
apresiasi karya siswa, aku merasa kehilangan sosoknya, mengingatbeliau selalu
ada untuk anak didiknya dan selalu
memprioritaskan.Aku kecewa bukan karena beliau tidak hadir, tetapi kecewa
karena tidak bisanya, tapi untuk hal itu aku maklumi karena mungkin beliau
sedang sibuk.
Terkadang ketika lelah susah untuk mengerti, saat itu aku benar-benar
lelah, mati rasa, tak karuan menahan rasa sakit di tempurung kepala, setelah
sekian lama aku bekerja keras mati-matian agar hasilnya jadi, namun apa yang
terjadi hasilnya mengecewakan, kenapa teman-temanku sendiri tidak menghargai kerja kerasku. Kemana
mereka? kenapa apresiasi kali ini tidak seperti tahun kemarin, kemana pula
Ibu-bapak guru, gak biasanya mereka tidak ada.
Sampai hari terakhir pun aku masih menunggu meski keadaanku yang mengkhawatirkan
aku tidak peduli aku tidak mau melewatkan hal yang mungkin bisa menjadi
penyemangatku lagi, namun pada kenyataannya masih sama dengan hari kemarin, Bu
Zahra yang aku pikir bisa mengembalikan semangatku lagi ternyata tidak bisa
hadir, padahal aku ingin memberikan kejutan pada Ibu-Bapak guru semua lewat
karya itu, selama ini perspektif mereka terhadap kelasku yang banyak negatifnya.Tapi lewat karya ini aku ingin membuktikan
pada mereka bahwa kelasku tidak seperti apa yang mereka pandang. Tapi kayaknya
semua itu harus di hapus jauh-jauh, bukan milik. Teman –temanku yang lain
penasaran kesibukan apa sampai Ibu-Bapak
guru tidak bisa hadir dalam kegiatan itu, mereka malah menanyakan hali itu
kepadaku.
“Put gak Biasanya yah guru-guru tidak ada.”
Tanya teman-teman.”
“iya aku juga tidak tahu.” Ucapku sambil mengangkat bahu
“ehh gak biasanya juga loh Put Bu Zahra gak
hadir, padahalkan beliau yang paling terdepan kalau masalah apresiasi.”ucap
salah satu temanku.
“iya Putri, Kemana Bu Zahra kamu biasanya tahu.”tempas
Ersan temanku.
“ya mana aku tahu, memangnya aku ini
asistennya, aku hanya muridnya Ersan.”ucapku sambil tersenyum.” emm sebenarnya
aku juga tidak tahu, iya gak seperti biasanya, tapi aku yakin beliau punya
alasan kenapa tidak bisa hadir.”lirihku.
“eeuuhh kan kamu deket sama Bu Zahra Putri.”
Ucap Ersan.
“ya coba kamu tanya aja lewat sms Put, kenapa
gak bisa hadir, kamu kan deket sama Bu Zahra.”Ucap teman-teman.
“iya, nanti aku coba tanyakan.”kataku.
Seperti biasanya pulang sekolah penyakitku kembali
kambuh, rasa sakitnya yang tidak bisa aku tahan kalau sudah di rumah, kenapa
semua ini terjadi padaku ya Alloh, kumohon ampuni dosaku, kuatkan aku. (pikirku
dalam hati)
Pekerjaan itu membuat tubuhku sangat kelelahan sehingga penyakit pun berdatangan. aku terkena penyakit gejala sinusitis akibat
terus-terusan begadang akibat itu juga mataku yang minus makin bertambah, mau
tak mau aku harus memakai kacamata lagi. Untungnya saat itu mau menghadapi
libur akhir semester , kalau tidak mungkin berminggu-minggu aku absen.
sebenarnya sejak dulu pun aku punya
riwayat sakit makanya dokter selalu menyarankan agar aku tidak boleh capek, atau beraktivitas berlebihan apalagi hingga
kekurangan cairan. Namun pekerjaan itu menuntutku untuk bergadang meski ditegur
dari sana, sini. Tapi Alhamdulillah dibalik semua itu ada hikmahnya.
Beberapakali aku memejamkan mata, teringat saat mengobrol sama
teman-teman tadi menyuruhku untuk sms Bu
Zahra, kuambil handphone dan mencoba
untuk menanyakan alasan Bu zahra tidak bisa hadir.
“Assalamualaikum.
Iibu ,,, kenapa
tahun sekarang, ibu gak ngeapresiasi Film kelas 12.”tanyaku.
Setelah kirim sms ke Ibu, tiba-tiba HPku lowbat lalu mati, kemudian aku
aktifkan lagi Handphoneku pukul 16:44 lalu berdering ada dua sms masuk,
ya tentunya balasan dari Bu Zahra.
“waalaikumsalam.
Putri maaf bukannya Ibu gak apresiasi film kalian tapi tadiibu bener-bener lagi dipusingkan sama
penilaian rapor, belum selesai juga. Ibu merasa bersalah, SUNGGUH L”
“Putri tolong
sampaikan MAAF ibu buat semuannya! Kalo ada tayangan ulang InsyaAlloh ibu akan
usahakan nonton. Nilai rapor kurtilas sekarang rumit, makanya ibu belum
kelar-kelar juga”
Dugaanku benar ada alasan knapa Ibu tidak bisa
hadir, aku tidak ingat kalau tahun sekarang posisinya berbeda dengan tahun kemarin, ya pastinya aku
sampaikan sama teman-teman, maaf dari Bu Zahra.
“iya gapapa aku
mengerti Bu, semoga kerjaan ibu cepat selesai, insyaAlloh akan aku sampaikan
maaf ibu sama teman-teman, kalo untuk tayangan ulang gak ada karena tadi hari
terakhir ya gapapa lah Bu, mungkin bukan waktunya, next time z.”jawabku
“pastinya ibu
menyesal banget Putri buat kalian kecewa...! terkadang pilihan hidup tidak bisa
menyenangkan semuannya! Ibu berharap kalian bisa menegrti.”
Akumengerti dengan kondisi yang sepertiitu dan lagi pula itu tidak membuatku
terlalu kecewa. Akan tetapi Bu Zahra mengira bahwa aku kecewa benget, justru
yang membuatku paling kecewa adalah ketika sesuatu yang paling kukagumi dari
dirinya hilang, itu yang harus dia
ketehui sebenarnya. Bagiku penghargaan atau apresiasi tidak begitu penting,
karena aku telah mendapatkan banyak hal ketika mengerjakan itu, justru
pekerjaan itulah yang menjadi penghargaan untukku.
Walau banyak tantangan ketika mengerjakan itu
namun aku tetap senang ya meskipun pernah sakit hati harus mendapat cibiran dan
teguran apalagi itu datang dari teman sendiri. Teman sekelasku Satria pernah
mencibirku. Bahwa aku tidak akan mampu mengedit film itu, dia meminta pekerjaan
itu untuk dikerjakan oleh saudaranya
yang katanya sudah berpengalaman dan pastinya cepat. Berulang kali dia
mengakatakan bahwa aku tidak akan mampu.
Aku tidak peduli dengan segala cibiran dia, aku hanya diam saja karena
yang seharusnya bergerak itu bukan mulut, tetapi tangan. lagian yang tahu
persis dengan alur ceritanyakan hanya aku. Ya memangsih saat itu aku tidak bisa berkata apa-apa,
sekaligus ada rasa was-was juga karena takut
hasilnya mengecewakan. Pantas saja Bu Zahra pernah ngatain dia Tukang
obat, bawel kaya perempuan, tapi biarlah toh aku sudah buktikan hasilnya, tidak
seperti mereka yang bisanya mencibir saja. Menuruti kata orang tidak akan
pernah ada habisnya. Memenuhi segala kecocokan dengan hati semua manusia
adalah hal yang tidak mungkin kamu capai! Kata-kata imam Syafii
mengingatkan diriku.
Saat ini aku benar-benar kehilangan sosok
guru seperti dia, aku rindu padanya. Padahal baru kemarin aku mendapati sosoknya
yang begitu ceria, lembut, ramah dan kebaikannya yang lain. sungguh waktu ini
begitu singkat rasanya baru kemarin aku bertemu dan menimba ilmu darinya, kini
harus berpisah :’( Andai waktu bisa kembali, ingin rasanya bertemu sekali lagi
untuk ucapkan terima kasih atas ilmu yang dia curahkan, perhatian yang dia
berikan , kepedulian dan kebaikan yang dia ulurkan untukku.Dia yang sering kumintai
jawaban atas segala pertanyaanku ketika aku merasa ada yang sulit, jika sudah
berpisah kepada siapa lagi akubertanya, tidak setiap orang terbuka seperti dia.
Dialah sosok yang tak asing dalam kehidupanku, dia yang lain tak lain adalah
guruku “Dewi Zahrana” Alloh memberikanku motivasi hidup, berbagai referensi
hidup, ilmu dan juga makna kehidupan
lewat dia, sosok perempuan yang berhati tulus, yang apabila
berbicarannya dapat menyentuh hati, kepedulian serta perhatian terhadap orang
lain yang tak pernah pandang bulu. Muliakanlah dia di hadapanMu ya Rabb
berkahilah dia dengan segala rahmat, cinta, dan kasih sayangMu, sungguh dia
adalah pengajar serta pendidik yang baik yang berhak mendapatkan kebahagian di
dunia dan akhirat Amin.(pintaku)
Guruku di pesantren berkata kalau guru itu
orang yang sholeh jadi yang pantas dikagumi itu seharusnya guru bukan artis,
guru juga public figure, ya public figure di dunia pendidikan yang patut ditiru
dan digugu, mereka adalah ladang Ilmu
yang sudah sepantasnya dicari dan dihormati.
Dia tokoh besar, dari beribu-ribu tokoh besar dunia , yang mengharumkan nama bangsa, tanpa lencana
berikan nama untuk mereka yang berada dalam kemelaratan, ya dia itu guru.
Sungguh aku merasa telah
kehilangan sosok itu, dan sekarang bukan hanya dia saja yang aku
rindukan tapi semuanya aku rindukan. Terkadang dalam hidup aku berharap ada
tombol fast foward atau pemutar waktu agar aku bisa kembali lagi pada masa-masa
saat belajar, kendati lima belas menit takkan kusia-siakan.
terima kasih banyak atas jasa dan pengorbananmu
yang tak melebihi kata, ucap, ataupun harga, layaknya padi yang berisi itu
benar, kaulah pahlawan yang akan terus berdetak bersama waktu hingga suatu
saat kau akan tersenyum melihatku
Kini telah kusimpan semua ceritaku, rinduku, suka dukaku pada setiap sudut dan dinding-dinding
yang menjadi saksi bisu perjalanan
hidupku menjadi siswa, yang setiap ruangannya menyimpan banyak kisah tentangku,
kau dan kita teman-teman dan juga guru-guru di lembaga pendidikan yang aku
cinta ini. Terimakasih karena telah menjadi bagian dari pelangi hidupku kaulah
pelukis wajah bangsa terhebat yang pernah aku temui.


Komentar
Posting Komentar