puisi



Tuan di Negeriku
Tuan...
Alangkah mewah hidupmu
Bergelimang harta...Tahta…
Diatas Penderitaan
Takkah kau tengok
Jerit tangis yang membelahsudut-sudut kota
Menahan rintihan… kelaparan…kesengsaraan
Lalu lalang di trotoar jalan
Mereka yang tak tahu
Hiruk pikuk yang slama ini membebani
Yang mereka tahu
Hanya sebuah cerita
Tentang negeri yang kaya raya
Tapi kini…
Yang tersisa hanya puing-puing kemasyhuran
Tuan…
Takkah kau tengok
Orang-orang dekil dipinggiran
Dibalut resah hingga gelisah
Membayangkan beban hidup
Yang tak pernah usai
Sementara kau…
Kau asyik memuntahkan propaganda
Akan Revolusimu
Yang sekedar kemuplase
Irama penyelewengan kian merajalela
Kau tiada beda?? Tiada beda !
Dengan tikus yang berkeliaran
Di lumbung padi
Kau makan padi itu tanpa satupun yang tersisa
Tuan…
Tahtamu adalah amanat
Yang harus kau ingat !! 
Kau bukan sekedar rakyat
Tapi pilihan terhebat
Tuan…
Untukmu yang diatas kursi
Dengarlahlah suara hati yang merintih ini ***



BelaianMu
Ketika malam menapaki langit
Saat rembulan yang dirindukan tak datang
Begitu pula bintang-bintang
Dalam gelap dan gemersik angin yang datang dari kejauhan
Kemana kankubisikan
Sungguh jauh terpelak haluan
Saat jutaan insan terlelap dalam kesunyian
Kemana kukan berbagi
Saat seluruh pintu terkunci
Pintu mana yang masih terbuka
Untukku mengadu
Atas segala kerinduaan....
Kebahagiaan...kekecewaan serta harapan
Yang telah kurasakan...
Ingin kurasakan...
Sungguh...sedih seni yang mengiris kalbu
Kepada siapa kuharus mengadu??
Dalam derasnya air yang mengalir dari kelopak mata
Hanya ada satu
Diatas sajadah cintaMu
Dengan butir tasbihku kepadaMu, kumengadu
Sungguh... belaianMu sangat lembut
Mengusap seluruh jiwaku yang lara
Dalam satu ikatan mesra***




Komentar

Postingan Populer